0 0 Read Time:3 Minute, 24 Second Menjelang Muktamar Al Washliyah, peserta dari 38 provinsi dan sejumlah delegasi luar negeri mulai berdatangan ke Jakarta. Kegiatan yang akan digelar pada 7—10 Juli 2026 itu telah menarik rombongan dari berbagai penjuru Tanah Air, sementara beberapa kontingen mancanegara juga sudah tiba untuk meramaikan pembukaan dan acara muktamar. Sejumlah delegasi memilih menginap di hotel, sementara sebagian lain menempati kantor pusat organisasi di Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, sebelum kemudian berkumpul di Asrama Haji Pondok Gede pada 7 Juli. Kedatangan yang bertahap ini memperlihatkan antusiasme tinggi menjelang pembukaan muktamar. Keberangkatan dan Kedatangan Peserta Muktamar Al Washliyah Pantauan pada awal Juli menunjukkan gelombang peserta mulai memasuki wilayah ibu kota. Kontingen dari Malaysia, yang direncanakan mengisi pembukaan dengan penampilan musik gambus, dilaporkan telah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sementara, rombongan dari Amerika Serikat tercatat datang lebih awal dan sudah melakukan pengepakan akomodasi sebelum acara resmi dimulai. Di beberapa titik keberangkatan, rombongan darat dari Sumatera Utara dan Aceh terus bergerak menuju Jakarta menggunakan bus. Informasi perjalanan mencatat konvoi mereka sempat memasuki wilayah Sumatera Selatan pada rute menuju pulau Jawa. Pola kedatangan yang berbeda—melalui udara, laut, dan darat—menunjukkan keragaman asal peserta serta kesiapan panitia dalam mengelola logistik. Kesiapan Lokasi dan Akomodasi Peserta Kantor pusat organisasi pada Jalan Ahmad Yani menjadi salah satu titik singgah bagi delegasi yang tiba lebih awal. Sejumlah peserta memilih bermalam di lokasi tersebut sebelum seluruh rombongan resmi berkumpul di Asrama Haji Pondok Gede pada hari pembukaan. Penyiapan akomodasi di hotel-hotel sekitar Jakarta juga tengah diatur untuk menampung delegasi yang datang secara bertahap. Panitia menyiapkan mekanisme koordinasi agar peserta dari berbagai daerah dapat masuk sesuai jadwal. Pendekatan bertahap ini dimaksudkan agar proses registrasi, penempatan, dan persiapan teknis acara berjalan tertib menjelang pembukaan muktamar. Baca juga: Indonesia Perkuat Kerja Sama untuk Kembangkan Kredit Keanekaragaman Hayati Kontingen Sulawesi Tenggara dan Antusiasme Delegasi Delegasi dari Sulawesi Tenggara dipimpin oleh Ketua Wilayah Sultra, Arulan Bao Rahmani SP, yang telah tiba lebih awal di kantor pusat. Menurut Arulan, rombongan Sultra datang secara bergelombang: ada yang menggunakan pesawat terbang, sementara lainnya menempuh perjalanan laut. Kedatangan beberapa perwakilan lebih awal disebabkan keperluan lain di ibu kota yang harus diselesaikan sebelum muktamar. Arulan menyatakan optimisme tinggi bahwa Sultra akan hadir sebagai tim lengkap, meliputi pengurus wilayah serta pengurus daerah di tingkat kota dan kabupaten. Ia menegaskan bahwa semangat hadir sesuai kuota yang diberikan panitia sangat kuat, meski jumlah pasti delegasi baru bisa dipastikan saat semua rombongan telah berkumpul. Dukungan terhadap Kepemimpinan dan Agenda Daerah Di bawah kepemimpinan Arulan, organisasi di Sulawesi Tenggara menurutnya telah mengalami perkembangan signifikan dengan jejak kepengurusan hampir merata di seluruh daerah. Ia juga mengapresiasi kepemimpinan ketua saat ini, KH Masyhuril Kamis, yang dinilai berhasil memperkuat posisi organisasi sehingga makin diperhitungkan di tingkat nasional. Arulan berharap tokoh tersebut dapat kembali memimpin pada periode mendatang. Sebagai bentuk dukungan dan rencana tindak lanjut, Arulan berniat mengundang ketua umum terpilih untuk hadir di Kendari guna meletakkan batu pertama pembangunan Islamic Center di atas tanah wakaf yang dimiliki wilayahnya. Rencana tersebut menjadi salah satu harapan setelah muktamar agar agenda pembangunan daerah dapat segera direalisasikan. Isu Pertambangan Akan Diusulkan dalam Muktamar Salah satu usulan penting yang akan disampaikan Sulawesi Tenggara dalam muktamar berkaitan dengan pengelolaan lahan pertambangan. Arulan menyebut bahwa pemerintah telah memberi wewenang kepada organisasi kemasyarakatan keagamaan untuk terlibat dalam pengelolaan lahan tambang, dan ia berharap organisasi mengambil peran tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan internal. Menjawab kekhawatiran pihak yang mengkritik soal dampak lingkungan dan sumber daya manusia, Arulan menegaskan bahwa pendekatan yang diusulkan bertumpu pada prinsip kelestarian. Ia menekankan bahwa pengelolaan tidak mesti semata mencari keuntungan finansial, melainkan juga menjaga lingkungan. Selain itu, menurutnya, anggota organisasi di Sultra memiliki keahlian dan sumber daya manusia yang memadai untuk mengelola usaha tersebut secara bertanggung jawab. Dengan arus kedatangan yang terus meningkat dan agenda yang sudah terencana, muktamar diprediksi berlangsung meriah. Perhatian kini beralih ke kesiapan panitia lokal dalam menyambut delegasi serta kemampuan organisasi untuk menampung dan menindaklanjuti usulan-usulan strategis yang akan dilontarkan selama forum berlangsung. Baca juga berita lainnya: Seabad Energi Panas Bumi: PGE Manfaatkan Uap untuk Mengangkat Ekonomi Kopi Kamojang Warga Tangsel Belajar Pembuatan Ekoenzim untuk Olah Sampah Organik Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author sheila.kartika Editor Lingkungan Sheila Kartika memiliki perhatian terhadap isu perubahan iklim, konservasi alam, energi hijau, pengurangan emisi karbon, pengelolaan limbah, serta berbagai upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Indonesia Perkuat Kerja Sama untuk Kembangkan Kredit Keanekaragaman Hayati