0 0 Read Time:2 Minute, 45 Second PLN EPI menegaskan bahwa standardisasi biomassa menjadi faktor penentu dalam upaya co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Fokus pada standardisasi biomassa diperlukan agar bahan bakar alternatif ini bisa dimanfaatkan secara konsisten dan aman di unit pembangkit. Selain penetapan standar mutu, keberhasilan co-firing menurut PLN EPI juga sangat bergantung pada efisiensi rantai pasok serta ketersediaan infrastruktur pengolahan yang andal. Pernyataan itu disampaikan oleh Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries: Engineering and Innovation for Sustainable Industrial Growth Symposium. Peran standardisasi biomassa dalam co-firing PLTU Menurut penjelasan yang disampaikan pada forum tersebut, standardisasi biomassa memainkan peran strategis untuk memastikan karakteristik bahan bakar—seperti kadar kelembapan, ukuran partikel, dan kandungan abu—sesuai dengan kebutuhan operasional PLTU. Tanpa standar yang jelas, variasi kualitas biomassa dapat menimbulkan gangguan operasional dan mengurangi efisiensi pembakaran saat dicampurkan dengan batubara. Efisiensi rantai pasok sebagai penunjang Hokkop menyoroti pentingnya efisiensi rantai pasok mulai dari sumber bahan baku hingga ke lokasi pembangkit. Proses pengumpulan, pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pengangkutan yang terkoordinasi menjadi prasyarat agar biomassa yang diterima di PLTU memiliki kualitas yang konsisten. Tanpa tata kelola rantai pasok yang baik, upaya standarisasi akan sulit diterapkan secara menyeluruh. Infrastruktur pengolahan yang andal Selain standar dan rantai pasok, infrastruktur pengolahan memegang peranan penting dalam menjamin kualitas bahan bakar biomassa. Fasilitas pengeringan, pemrosesan ukuran partikel, dan fasilitas penyimpanan yang memadai akan membantu meminimalkan penurunan mutu selama penyimpanan dan pengiriman. PLN EPI menggarisbawahi bahwa infrastruktur ini harus bisa mendukung volume dan kontinuitas pasokan sesuai kebutuhan pembangkit. Baca juga: Weichai Ungkap Lima Jalur Teknologi untuk Kendaraan Niaga Lebih Hijau dan Cerdas Terkait potensi biomassa nasional Walau potensi biomassa nasional dianggap besar, faktor teknis dan logistik tetap menjadi hambatan yang harus diatasi agar potensi tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk co-firing PLTU. PLN EPI menekankan bahwa keberadaan sumber biomassa yang melimpah saja tidak cukup tanpa upaya standarisasi, penguatan rantai pasok, dan pengembangan infrastruktur pengolahan yang memadai. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks forum yang membahas inovasi penanganan material untuk industri berbasis kayu, yang menempatkan aspek teknik dan inovasi sebagai bagian dari pertumbuhan industri yang berkelanjutan. Forum tersebut menjadi wadah bagi pemangku kepentingan untuk membahas tantangan teknis dan solusi yang berkaitan dengan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar campuran di pembangkit listrik. Dengan penegasan dari Direktur Biomassa PLN EPI, terlihat bahwa upaya peningkatan penggunaan biomassa pada PLTU perlu pendekatan menyeluruh: menetapkan standar mutu bahan bakar, memperbaiki logistik dan rantai pasok, serta memastikan ketersediaan dan kapasitas infrastruktur pengolahan. Ketiga aspek ini dianggap saling berkaitan dan harus ditangani secara terpadu agar program co-firing dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Pentingnya koordinasi lintas sektor juga disinggung sebagai bagian dari upaya operasionalisasi standar dan penguatan rantai pasok. Hal ini meliputi keterlibatan para penyedia bahan baku, pengelola fasilitas pengolahan, operator PLTU, dan pihak terkait lainnya untuk menyelaraskan praktik pengelolaan biomassa dari hulu hingga hilir. Dengan menempatkan standardisasi biomassa sebagai prioritas, PLN EPI berharap pemanfaatan biomassa dalam co-firing PLTU dapat diberikan kepastian mutu dan keandalan operasional. Langkah-langkah teknis dan manajerial yang menekankan kualitas, konsistensi pasokan, dan kesiapan infrastruktur dinilai krusial agar program ini tidak sekadar menjadi pilot proyek, tetapi dapat diterapkan secara lebih luas di masa mendatang. Baca juga berita lainnya: Penerapan B50 Biodiesel Dimulai, Indonesia Proyeksikan Hemat Rp 177 Triliun Laba Bank Mandiri Tembus Rp30,4 Triliun pada Semester I-2026 Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author aldo.wiranata Editor Energi Aldo Wiranata merupakan jurnalis yang berfokus pada sektor energi, transisi energi, ketenagalistrikan, migas, serta pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan dunia. Ia aktif mengikuti berbagai perkembangan kebijakan energi dan inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan sektor energi. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Weichai Ungkap Lima Jalur Teknologi untuk Kendaraan Niaga Lebih Hijau dan Cerdas