seratus tahun panas bumi - ilustrasi berita PGE Manfaatkan Seratus Tahun Panas Bumi untuk Percepat Inovasi dan EkspansiPGE menjadikan Seratus Tahun Panas Bumi sebagai momentum mempercepat inovasi, diversifikasi pemanfaatan, dan kolaborasi untuk ketahanan energi nasional.
0 0
Read Time:3 Minute, 10 Second

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyatakan perayaan Seratus Tahun Panas Bumi sebagai titik tolak untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan saat perwakilan PGE hadir dalam The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 di Bandung pada 13 Juli 2026.

seratus tahun panas bumi - ilustrasi berita PGE Manfaatkan Seratus Tahun Panas Bumi untuk Percepat Inovasi dan Ekspansi

Dalam forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan investor tersebut, manajemen PGE menegaskan fokus pada inovasi teknologi, diversifikasi pemanfaatan, serta penguatan kerja sama lintas sektor untuk memaksimalkan manfaat sumber daya panas bumi bagi perekonomian dan masyarakat.

Seratus Tahun Panas Bumi dalam Sorotan Publik

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menyebut perjalanan satu abad pengembangan panas bumi di Indonesia menempatkan sumber ini sebagai penopang penting ketahanan energi nasional. Menurutnya, PGE akan mempercepat pengembangan teknologi dan memperluas pemanfaatan panas bumi di luar pembangkitan listrik konvensional.

Andi Joko menegaskan, “Seratus tahun perjalanan panas bumi Indonesia membuktikan bahwa energi panas bumi telah menjadi salah satu fondasi penting ketahanan energi nasional. Ke depan, fokus PGE adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional.” Pernyataan ini menggambarkan arah strategi perusahaan menjelang dekade mendatang.

Sejarah dan Potensi yang Menjadi Modal

Jejak pengembangan panas bumi di Indonesia dimulai dari survei manifestasi di Kamojang dan dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926. Sejak itu, negara ini berkembang menjadi salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di dunia dengan potensi yang diperkirakan mencapai sekitar 24 gigawatt (GW).

Potensi tersebut menjadi modal strategis bagi upaya mencapai kemandirian energi dan memperkuat ketahanan pasokan listrik berbasis energi baru terbarukan. Karena karakteristiknya yang dapat menghasilkan listrik bersih secara andal selama 24 jam, panas bumi dinilai cocok untuk mendukung transformasi industri menuju energi rendah karbon.

Inovasi dan Diversifikasi Pemanfaatan

PGE telah mendorong pengembangan pemanfaatan langsung (direct use) panas bumi untuk sektor pertanian dan industri, serta mengeksplorasi pengembangan green hydrogen sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon. Perusahaan juga mempercepat transformasi digital untuk meningkatkan akurasi data dan efisiensi operasi, termasuk pengujian sumur panas bumi yang lebih canggih.

Langkah-langkah teknologi dan diversifikasi ini diharapkan membuka berbagai sumber pendapatan masa depan sekaligus mempercepat pengambilan keputusan dalam pengembangan lapangan panas bumi.

Peran Akademisi dan Pengelolaan Berkelanjutan

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung, Ir. Nenny Miryani Saptadji, Ph.D., menekankan pentingnya pengelolaan yang tepat agar sumber panas bumi bisa menjadi warisan energi bagi generasi mendatang. Nenny mencontohkan PLTP Kamojang sebagai contoh pengelolaan yang dapat dijadikan acuan untuk praktik berkelanjutan.

“Panas bumi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang,” ujarnya. Ia mendorong masyarakat akademik, termasuk mahasiswa, untuk terlibat dalam pengembangan riset dan inovasi di sektor panas bumi.

Kinerja Keberlanjutan dan Target Kapasitas

Komitmen PGE dalam keberlanjutan mendapat pengakuan melalui skor ESG Risk Rating 7,1 dari Sustainalytics, yang tercatat sebagai yang tertinggi di Indonesia. Perusahaan juga tercatat dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025. PGE melaporkan kontribusi penghindaran emisi sekitar 4,29 juta ton CO2e dibandingkan pembangkit listrik non-terbarukan, serta intensitas emisi sebesar 0,041 ton CO2e per MWh.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, PGE memasang target kapasitas terpasang yang dikelola sendiri sebesar 1 GW pada 2028, naik menjadi 1,8 GW pada 2034. Target ini diharapkan memperkuat peran perusahaan dalam mendorong pertumbuhan industri panas bumi nasional dan mendukung ketahanan energi di era kedua pengembangan panas bumi Indonesia.

Pada IIGW 2026, PGE juga menerima penghargaan Ganesha Geothermal Award for Outstanding Funding dan Ganesha Geothermal Award for Long-Term Commitment, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi perusahaan dalam riset, pendidikan, dan inovasi di bidang panas bumi.

About Post Author

gilang.mahendra

Redaktur Bisnis Gilang Mahendra memiliki pengalaman dalam meliput perkembangan dunia usaha, industri, investasi, perusahaan, serta dinamika bisnis nasional maupun global. Fokus liputannya mencakup strategi korporasi, startup, UMKM, hingga tren ekonomi digital. Email [email protected]
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By gilang.mahendra

Redaktur Bisnis Gilang Mahendra memiliki pengalaman dalam meliput perkembangan dunia usaha, industri, investasi, perusahaan, serta dinamika bisnis nasional maupun global. Fokus liputannya mencakup strategi korporasi, startup, UMKM, hingga tren ekonomi digital. Email [email protected]