satu abad panas bumi - ilustrasi berita PGE Manfaatkan Satu Abad Panas Bumi untuk Percepat Inovasi dan KolaborasiPGE memanfaatkan satu abad panas bumi untuk mempercepat inovasi, perluasan pemanfaatan, dan kolaborasi lintas sektor demi ketahanan energi dan emisi rendah.
0 0
Read Time:3 Minute, 16 Second

Dalam rangka memperingati satu abad panas bumi Indonesia, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyatakan akan memanfaatkan momentum tersebut untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi melalui inovasi, kolaborasi, dan diversifikasi pemanfaatan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 yang digelar di Bandung, Jawa Barat.

satu abad panas bumi - ilustrasi berita PGE Manfaatkan Satu Abad Panas Bumi untuk Percepat Inovasi dan Kolaborasi

Forum yang mengumpulkan unsur pemerintah, pelaku industri, akademisi, investor, dan pemangku kepentingan lain menjadi panggung bagi PGE untuk memaparkan strategi serta langkah-langkah operasional menjelang era kedua pengembangan panas bumi di Indonesia.

Satu Abad Panas Bumi: Sejarah dan potensi

Jejak pengembangan panas bumi di Indonesia dimulai dari survei manifestasi di Kamojang dan dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926. Sejak saat itu, kapasitas dan pengalaman Indonesia berkembang pesat sehingga negara ini kini memiliki potensi sekitar 24 gigawatt (GW), yang menempatkannya sebagai salah satu pemilik cadangan terbesar di dunia.

Potensi tersebut menjadi modal strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Selain memasok listrik secara andal 24 jam, panas bumi juga dipandang sebagai pilar bagi pengembangan industri hijau yang membutuhkan pasokan energi bersih dan stabil.

Inovasi dan diversifikasi pemanfaatan

PGE menjadikan inovasi teknologi sebagai salah satu fokus utama. Perusahaan mempercepat transformasi digital dan mengembangkan teknologi pengujian sumur untuk meningkatkan akurasi data, efisiensi operasional, serta mempercepat pengambilan keputusan dalam pengembangan lapangan panas bumi. Selain itu, PGE menyoroti pemanfaatan langsung (direct use) untuk sektor pertanian dan industri serta penelitian atas pengembangan green hydrogen sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menegaskan bahwa satu abad perjalanan panas bumi membuka babak baru. Menurutnya, PGE akan mengoptimalkan aset eksisting, mendorong ekspansi bisnis, dan mengembangkan sumber pendapatan masa depan melalui diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi agar manfaatnya lebih luas bagi masyarakat dan ekonomi nasional.

Peran akademisi dan contoh pengelolaan berkelanjutan

Dalam sesi IIGW, akademisi dari ITB, Ir. Nenny Miryani Saptadji, Ph.D., menekankan pentingnya pengelolaan berkelanjutan agar panas bumi dapat memenuhi kebutuhan jangka panjang dan menjadi warisan bagi generasi mendatang. Ia mencontohkan PLTP Kamojang sebagai model pengelolaan yang dapat dijadikan rujukan untuk praktik pengembangan yang bertanggung jawab.

Nenny juga mendorong keterlibatan generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi serta praktik terbaik di sektor panas bumi demi memperkuat sumber daya manusia di bidang ini.

Penghargaan dan kinerja keberlanjutan

Komitmen PGE pada riset, pendidikan, dan inovasi mendapatkan pengakuan melalui dua penghargaan yang diserahkan pada ajang tersebut: Ganesha Geothermal Award for Outstanding Funding dan Ganesha Geothermal Award for Long-Term Commitment. Penghargaan ini mencerminkan kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan industri panas bumi nasional secara berkelanjutan.

Dari sisi kinerja keberlanjutan, PGE melaporkan skor ESG Risk Rating sebesar 7,1 menurut penilaian Sustainalytics — angka yang diklaim tertinggi di antara perusahaan domestik. PGE juga tercatat sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk daftar Top 50 Global ESG Companies 2025. Dalam pelaporan emisi, perusahaan menyebutkan kontribusinya dalam menghindari sekitar 4,29 juta ton CO2e bila dibandingkan pembangkit non-EBT, dengan intensitas emisi sekitar 0,041 ton CO2e per MWh.

Strategi ke depan dan kebutuhan kolaborasi

Untuk mengakselerasi pengembangan panas bumi, PGE menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah, swasta, akademisi, hingga investor. Perusahaan optimistis bahwa penggabungan inovasi teknis, perluasan pemanfaatan, dan kerja sama yang kuat dapat menempatkan PGE sebagai world-leading geothermal producer sekaligus geothermal centre of excellence.

Sebagai target pertumbuhan, PGE menyiapkan langkah untuk mencapai kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri sebesar 1 GW pada 2028, dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Target ini diharapkan memperkuat kontribusi perusahaan terhadap perkembangan industri panas bumi nasional dan percepatan ketahanan energi Indonesia di era berikutnya.

Dengan mengombinasikan pengembangan teknologi, diversifikasi penggunaan energi panas bumi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, PGE berharap momentum peringatan satu abad panas bumi menjadi titik tolak yang membawa manfaat lebih luas bagi ekonomi dan masyarakat.

About Post Author

raka.aditya

Editor Ekonomi Raka Aditya mengulas berbagai isu ekonomi makro maupun mikro, mulai dari kebijakan pemerintah, inflasi, perdagangan, pasar keuangan, investasi, hingga perkembangan ekonomi global yang berdampak terhadap Indonesia. Email [email protected]
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By raka.aditya

Editor Ekonomi Raka Aditya mengulas berbagai isu ekonomi makro maupun mikro, mulai dari kebijakan pemerintah, inflasi, perdagangan, pasar keuangan, investasi, hingga perkembangan ekonomi global yang berdampak terhadap Indonesia. Email [email protected]