0 0 Read Time:3 Minute, 9 Second Gejolak geopolitik global membuat urusan energi semakin kompleks sehingga tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan saat ini. Pertumbuhan Pertamina menjadi kunci karena perusahaan negara ini menjalankan strategi yang berfokus pada dua jalur untuk menjaga pasokan sekaligus menyiapkan sumber energi masa depan. Strategi tersebut menempatkan bisnis migas yang sudah ada sebagai fondasi ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) dan teknologi rendah karbon untuk pertumbuhan jangka panjang. Pendekatan ini menurut manajemen bertujuan mempertahankan ketersediaan energi yang aman dan andal di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan Pertamina: Memperkuat fondasi migas Sisi pertama dari strategi adalah memperkuat bisnis eksisting. Pertamina terus meningkatkan produksi minyak dan gas serta mengoptimalkan aset kilang untuk memastikan kemampuan pengolahan dan pasokan bahan bakar tetap terjaga. Upaya ini penting mengingat migas masih berperan besar dalam memenuhi kebutuhan energi domestik saat ini. Manajemen menekankan bahwa menjaga keandalan pasokan menjadi prioritas di tengah dinamika pasar dan fluktuasi harga komoditas. Optimalisasi kilang dan peningkatan produksi domestik diarahkan untuk mengurangi risiko ketergantungan pada impor serta memperkuat ketahanan energi nasional. Membangun sumber baru: EBT dan teknologi rendah karbon Jalur kedua dalam strategi pertumbuhan adalah mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan serta teknologi rendah karbon. Fokusnya meliputi panas bumi, energi surya, bahan bakar nabati, serta teknologi seperti carbon capture, utilization and storage (CCUS) dan hidrogen rendah karbon. Contoh nyata pengelolaan EBT oleh Pertamina adalah melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE), yang mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW). Kapasitas itu terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama, atau sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional. Baca juga: Kredit Berkelanjutan BRI Meningkat Jadi Rp 842,1 Triliun pada Triwulan II-2026 Pendekatan bertahap dan penilaian ahli Ekonom dan pengamat menyambut baik strategi dua jalur tersebut. Menurut Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, pendekatan itu tepat karena memungkinkan Pertamina mempertahankan sumber pendapatan utama sambil membangun ekosistem energi baru secara bertahap. Faisal menyatakan bahwa migas masih harus dipertahankan sebagai penopang sementara pengembangan EBT berlangsung. Ia menekankan pentingnya mencari sumber lain selain migas untuk mendorong ketahanan energi dan memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat seiring upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Pergeseran yang terlalu cepat berisiko mengganggu kinerja perusahaan, sehingga langkah bertahap atau “safe transition” dinilai lebih realistis. Peran kebijakan dan target bauran energi Pendekatan Pertamina sejalan dengan prioritas pemerintah dalam mendorong swasembada energi melalui pengembangan EBT. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa EBT merupakan bagian dari program prioritas nasional untuk memperkuat kemandirian energi dan mereduksi dampak gangguan rantai pasok global. Kementerian mencatat bahwa bauran EBT nasional pada semester I 2026 baru mencapai 17,3%, sementara target pemerintah adalah 30% pada 2034. Angka ini menunjukkan bahwa transisi energi masih memerlukan upaya besar sehingga pendekatan ganda seperti yang diambil Pertamina menjadi relevan untuk menjembatani kebutuhan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Komitmen menuju Net Zero dan tata kelola berkelanjutan Manajemen Pertamina menegaskan bahwa transisi energi bukan semata soal menurunkan emisi, tetapi juga memperbanyak ragam sumber energi domestik yang berkelanjutan. Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron, mengatakan bahwa strategi dual growth diarahkan untuk menjaga kebutuhan energi hari ini sambil membangun fondasi energi masa depan menuju target Net Zero Emission 2060. Pertamina juga menyatakan komitmen terhadap prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) dalam transformasi yang mencakup tata kelola, pelayanan, keberlanjutan usaha, dan pengelolaan lingkungan. Langkah-langkah tersebut diharapkan mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan memperkuat peran perusahaan dalam transisi energi nasional. Secara keseluruhan, strategi dua jalur yang menempatkan bisnis legacy dan bisnis rendah karbon berjalan beriringan, sehingga kebutuhan energi saat ini tetap terpenuhi sementara Indonesia mempersiapkan sumber energi baru untuk masa depan. Baca juga berita lainnya: Laba MedcoEnergi Tumbuh Pesat Jadi Rp1,18 Triliun di Kuartal I 2026 Peran PLN Energi Gas dalam Menopang Ketahanan Energi Nasional Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author aldo.wiranata Editor Energi Aldo Wiranata merupakan jurnalis yang berfokus pada sektor energi, transisi energi, ketenagalistrikan, migas, serta pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan dunia. Ia aktif mengikuti berbagai perkembangan kebijakan energi dan inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan sektor energi. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Kredit Berkelanjutan BRI Meningkat Jadi Rp 842,1 Triliun pada Triwulan II-2026