pertamina energi - ilustrasi berita Pertamina energi: Dua jalur pertumbuhan untuk menjamin pasokan kini dan…Pertamina energi menjalankan dua jalur: memperkuat bisnis migas untuk ketahanan saat ini dan mengembangkan EBT serta teknologi rendah karbon sebagai sumber…
0 0
Read Time:3 Minute, 3 Second

Pertamina energi menerapkan strategi ganda untuk menghadapi tantangan ketahanan dan transisi energi. Perusahaan menyelaraskan upaya menjaga pasokan saat ini dengan pembangunan sumber baru yang ramah lingkungan.

pertamina energi - ilustrasi berita Pertamina energi: Dua jalur pertumbuhan untuk menjamin pasokan kini dan…

Pendekatan itu berfokus pada dua jalur: memperkuat bisnis eksisting di sektor minyak dan gas sekaligus mengembangkan energi baru dan terbarukan serta teknologi rendah karbon untuk pertumbuhan jangka panjang.

Pertamina energi: Menjalankan dua jalur sekaligus

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa transisi energi bagi perusahaan bukan semata soal pengurangan emisi. Menurut Baron, upaya itu juga bertujuan memperluas ketersediaan sumber energi nasional yang beragam, berkelanjutan, dan memanfaatkan potensi domestik. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada 4 September 2026.

Melalui strategi tersebut, Pertamina menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi saat ini dan persiapan sumber energi baru untuk masa depan. Strategi dual growth dipandang penting karena perubahan geopolitik dan dinamika pasar dapat memengaruhi rantai pasok serta harga komoditas energi.

Memperkuat bisnis migas sebagai penopang ketahanan

Salah satu jalur utama adalah penguatan bisnis legacy, terutama di sektor minyak dan gas. Pertamina terus mendorong peningkatan produksi migas serta optimalisasi kapasitas kilang untuk memastikan pasokan bahan bakar dan produk turunan tersedia secara andal dan berkualitas.

Penguatan aset eksisting dipandang perlu karena permintaan energi domestik tetap tinggi dan fluktuasi pasokan global dapat menimbulkan risiko terhadap ketersediaan energi. Dengan menjaga fondasi bisnis yang sudah ada, Pertamina berharap dapat mempertahankan kestabilan pasokan sambil menyiapkan transisi yang bertahap.

Membangun energi rendah karbon dan EBT

Di jalur kedua, Pertamina fokus mengembangkan energi baru dan terbarukan (EBT) serta teknologi rendah karbon. Perusahaan menggarap panas bumi, energi surya, biofuel, serta teknologi seperti carbon capture, utilization and storage (CCUS) dan hidrogen rendah karbon sebagai bagian dari agenda jangka panjang.

Salah satu unit yang menjadi contoh adalah Pertamina Geothermal Energy (PGE). PGE mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW), di mana 727 MW dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas itu setara sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional, menegaskan peran strategis perusahaan dalam pengembangan panas bumi di dalam negeri.

Pandangan ekonom dan kaitan kebijakan nasional

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai strategi dual growth sudah tepat. Faisal mengatakan mempertahankan bisnis migas penting sebagai penopang sementara pengembangan EBT harus terus didorong agar ada diversifikasi sumber energi dan keberlanjutan jangka panjang.

Faisal menggambarkan pendekatan itu sebagai transisi yang aman: mempertahankan aset dan aliran pendapatan dari migas sambil membangun ekosistem energi baru untuk menghindari guncangan performa perusahaan bila pergeseran dilakukan secara drastis.

Secara kebijakan, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan bahwa pengembangan EBT bagian dari prioritas pemerintah untuk mendorong swasembada energi. Dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026 pada 2 September, Yuliot mengingatkan bahwa gejolak geopolitik dapat mempengaruhi rantai pasok dan berdampak pada inflasi serta beban subsidi, sehingga diversifikasi sumber energi menjadi penting.

Perjalanan menuju bauran energi dan target emisi

Kementerian ESDM mencatat bauran EBT nasional pada semester I 2026 mencapai 17,3%, sedangkan target pemerintah adalah meningkat menjadi 30% pada 2034. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya transisi masih panjang dan membutuhkan investasi serta kebijakan yang konsisten.

Baron menambahkan bahwa semua langkah tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan energi hari ini terpenuhi sembari membangun fondasi energi masa depan menuju target Net Zero Emission 2060. Pertamina juga menyatakan komitmen pada prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) dalam menjalankan operasi dan transformasi usaha.

Dengan menempatkan bisnis legacy dan usaha rendah karbon sebagai dua jalur yang berjalan bersamaan, Pertamina berharap dapat menjembatani kebutuhan mendesak saat ini dan menyediakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan bagi perusahaan dan ketahanan energi nasional.

About Post Author

gilang.mahendra

Redaktur Bisnis Gilang Mahendra memiliki pengalaman dalam meliput perkembangan dunia usaha, industri, investasi, perusahaan, serta dinamika bisnis nasional maupun global. Fokus liputannya mencakup strategi korporasi, startup, UMKM, hingga tren ekonomi digital. Email [email protected]
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By gilang.mahendra

Redaktur Bisnis Gilang Mahendra memiliki pengalaman dalam meliput perkembangan dunia usaha, industri, investasi, perusahaan, serta dinamika bisnis nasional maupun global. Fokus liputannya mencakup strategi korporasi, startup, UMKM, hingga tren ekonomi digital. Email [email protected]