0 0 Read Time:3 Minute, 15 Second Peringatan satu abad eksplorasi panas bumi di Indonesia kembali mengangkat peran Kamojang sebagai titik awal pengembangan energi terbarukan di tanah air. PGE menegaskan komitmennya untuk menghadirkan energi bersih yang sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Dalam kunjungan bersama Pertamina dan awak media ke Area Kamojang pada 26 Juni 2026, rombongan melihat langsung operasional pembangkit serta program pemanfaatan langsung panas bumi yang selama ini dikembangkan untuk menguatkan ekonomi lokal tanpa mengorbankan lingkungan. Panas Bumi Kamojang sebagai Sumber Inovasi Area Kamojang, yang pertama kali dieksplorasi pada 1926, kini menjadi contoh bagaimana sumber daya alam dapat dikembangkan berkelanjutan. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menekankan pentingnya kawasan ini dalam sejarah pengembangan energi bersih di Indonesia. Menurut Baron, pengelolaan panas bumi di Kamojang tidak hanya menghasilkan listrik yang andal, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat, termasuk melalui pemanfaatan panas untuk kegiatan ekonomi. Geothermal Dry House: Mempercepat dan Menjaga Kualitas Kopi Salah satu inovasi yang dipamerkan adalah Geothermal Dry House, teknologi pengering kopi yang memanfaatkan steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif. Teknologi ini menghasilkan biji kopi yang lebih higienis dan kematangan yang konsisten. Proses pengeringan yang semula membutuhkan 30–45 hari kini bisa selesai dalam 3–10 hari, dengan klaim efisiensi mencapai tiga kali lipat. Efeknya bukan hanya pada kecepatan produksi. Pengeringan yang lebih konsisten membantu menjaga mutu biji sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Melalui program ini, PGE bermitra dengan tiga kelompok tani—Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi—yang memberdayakan sekitar 320 keluarga petani di sekitar Kamojang. Hasilnya, Kopi Kamojang telah menembus pasar internasional dengan ekspor sebanyak 20 ton ke negara-negara di Asia dan Eropa. Kebijakan dan Program Pemberdayaan Lokal Corporate Secretary PGE, Muhammad Taufik, menyatakan bahwa pemanfaatan langsung panas bumi adalah contoh nyata bagaimana energi ini bisa memberi manfaat lebih luas dari sekadar pembangkitan listrik. Menurut Taufik, inovasi seperti Geothermal Dry House menunjukkan potensinya dalam meningkatkan kualitas produk lokal dan memperkuat ekonomi komunitas sekitar. Baca juga: Jerman Siaga Saat Gelombang Panas Eropa Mendekat dengan Suhu Hampir 40°C Selain kopi, PGE mengembangkan program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal) yang mencakup inisiatif Geothermal Fishery, Geothermal Farming, Geothermal Food, hingga produksi pupuk organik GeO-Fert. Program-program ini dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi secara langsung demi meningkatkan produktivitas pertanian dan perikanan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Konservasi dan Penghargaan Lingkungan Komitmen terhadap kelestarian lingkungan juga ditunjukkan melalui upaya konservasi, termasuk pelestarian Elang Jawa lewat Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK). PGE Area Kamojang tercatat sebagai satu-satunya unit panas bumi di Indonesia yang berhasil meraih 15 penghargaan PROPER Emas berturut-turut, bukti konsistensi dalam praktik pengelolaan lingkungan yang baik. Secara kumulatif, berbagai program pemberdayaan dan konservasi yang dijalankan PGE Area Kamojang sudah menjangkau sekitar 15 ribu penerima manfaat dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Capaian ini menjadi indikator bahwa pengembangan panas bumi dapat selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Kontribusi Terhadap Ketahanan Energi dan Emisi Karbon Pengelolaan Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang kini berada di bawah PGE dengan lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang memiliki kapasitas total 235 megawatt. Dari keseluruhan kapasitas terpasang yang dikelola PGE, yakni 727 MW, Kamojang menyumbang porsi yang signifikan. PLTP Kamojang mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga sepanjang tahun tanpa tergantung pada kondisi cuaca maupun bahan bakar fosil. Hingga September 2025, produksi listrik dari Kamojang mencapai 1.326 GWh, tertinggi di antara seluruh wilayah kerja panas bumi yang dikelola PGE. Operasi pembangkit ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO2 per tahun—sejalan dengan target pengurangan emisi nasional menuju net zero emission pada 2060. Perayaan seratus tahun eksplorasi panas bumi menjadi momentum bagi PGE untuk menegaskan peran energi terbarukan sebagai pendorong pembangunan yang inklusif dan ramah lingkungan. Dari produksi listrik hingga inovasi pengolahan kopi, pengelolaan Panas Bumi Kamojang menunjukkan bahwa sumber daya alam dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author aldo.wiranata Editor Energi Aldo Wiranata merupakan jurnalis yang berfokus pada sektor energi, transisi energi, ketenagalistrikan, migas, serta pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan dunia. Ia aktif mengikuti berbagai perkembangan kebijakan energi dan inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan sektor energi. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Jerman Siaga Saat Gelombang Panas Eropa Mendekat dengan Suhu Hampir 40°C