0 0 Read Time:3 Minute, 1 Second Panas Bumi Kamojang kembali menjadi sorotan saat PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memperingati 100 tahun eksplorasi panas bumi di Indonesia. Perayaan ini menegaskan komitmen PGE untuk mengembangkan energi bersih sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Dalam kunjungan PT Pertamina bersama media ke Area Kamojang pada Jumat, 26 Juni 2026, rombongan meninjau operasional pembangkit dan berbagai inisiatif pemberdayaan yang memanfaatkan langsung sumber panas bumi. Panas Bumi Kamojang dalam Sorotan Publik Salah satu inovasi unggulan yang dipaparkan adalah Geothermal Dry House, teknologi pengeringan kopi yang menggunakan steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif. Teknologi ini dirancang untuk menghasilkan biji kopi yang lebih higienis dan matang secara konsisten. Secara operasional, penggunaan panas bumi pada proses pengeringan mempercepat waktu pengolahan hingga tiga kali lipat dengan efisiensi diklaim mencapai 300 persen. Proses yang sebelumnya memakan waktu 30–45 hari kini bisa dipangkas menjadi hanya 3–10 hari, sehingga kapasitas produksi meningkat dan biaya operasional dapat ditekan tanpa mengorbankan mutu biji kopi. Manfaat ekonomi bagi petani dan jejak ekspor PGE bermitra dengan tiga kelompok tani—Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi—yang menjangkau 320 keluarga petani di sekitar Kamojang. Produk Kopi Kamojang hasil pengolahan dengan teknologi tersebut telah menembus pasar internasional, diekspor ke beberapa negara di Asia dan Eropa dengan total pengiriman mencapai 20 ton. Corporate Secretary PGE Muhammad Taufik menjelaskan bahwa pemanfaatan langsung panas bumi seperti Geothermal Dry House menunjukkan potensi energi ini untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal dan memperkuat kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan. KANYAAH dan program pemberdayaan lain Selain pengembangan kopi, PGE Area Kamojang menjalankan program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal) yang meliputi beragam inisiatif berbasis pemanfaatan panas bumi. Program ini mencakup Geothermal Fishery untuk perikanan, Geothermal Farming untuk budidaya pertanian, Geothermal Food untuk pengolahan pascapanen, hingga produksi pupuk organik GeO-Fert. Baca juga: Kadin Perkuat Ekosistem Digital UMKM untuk Dorong Naik Kelas Di samping program berbasis ekonomi, PGE juga aktif dalam pelestarian lingkungan melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK). Berkat upaya manajemen lingkungan dan program yang berkelanjutan, PGE Area Kamojang berhasil mempertahankan 15 penghargaan PROPER Emas berturut-turut. Sejarah panjang dan kontribusi energi Kajian sejarah menunjukkan bahwa wilayah Kamojang merupakan lokasi panas bumi tertua di Indonesia, pertama kali dieksplorasi pada 1926. Eksplorasi oleh Pertamina dimulai pada 1974, dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang pertama beroperasi komersial pada 1983. Saat ini PGE mengelola Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang dengan lima unit PLTP yang memiliki total kapasitas 235 megawatt (MW). Angka tersebut merupakan bagian dari total kapasitas terpasang 727 MW yang dikelola PGE. PLTP Kamojang mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari sepanjang tahun. Hingga September 2025, produksi listrik dari Kamojang tercatat sebesar 1.326 gigawatt hour (GWh), tertinggi di antara seluruh wilayah kerja PGE. Operasi ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO2 per tahun, sejalan dengan target net zero emission Indonesia pada 2060. Kunjungan, komitmen, dan paparannya Pada kesempatan kunjungan, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menegaskan bahwa Kamojang memiliki peran penting dalam sejarah pengembangan energi bersih Indonesia. Menurutnya, pengembangan panas bumi di Kamojang tidak hanya menyediakan listrik yang andal, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Baron menyampaikan bahwa melalui kunjungan tersebut pihaknya ingin menunjukkan bahwa pemanfaatan panas bumi dapat berjalan serentak dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi lokal. Pernyataan itu diperkuat oleh laporan capaian program yang telah menjangkau sekitar 15.000 penerima manfaat di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan. Perjalanan satu abad Panas Bumi Kamojang menggambarkan bagaimana sumber daya alam dapat dikembangkan secara berkelanjutan: menghasilkan energi bersih, memperkuat ketahanan energi nasional, dan membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas setempat tanpa menambah beban lingkungan. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author gilang.mahendra Redaktur Bisnis Gilang Mahendra memiliki pengalaman dalam meliput perkembangan dunia usaha, industri, investasi, perusahaan, serta dinamika bisnis nasional maupun global. Fokus liputannya mencakup strategi korporasi, startup, UMKM, hingga tren ekonomi digital. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Kadin Perkuat Ekosistem Digital UMKM untuk Dorong Naik Kelas