0 0 Read Time:2 Minute, 15 Second Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) mendorong tersusunnya regulasi yang mendukung perluasan ekosistem perfilman ke daerah, termasuk upaya penyediaan bioskop di kabupaten agar masyarakat di luar ibu kota memperoleh akses tontonan berkualitas. Dorongan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum GSI, Hj. Dewie Yasin Limpo, saat menghadiri acara peluncuran official poster dan official trailer. GSI menilai perlu adanya kebijakan yang tidak hanya mengatur produksi, tetapi juga distribusi dan akses kepada penonton di tingkat kabupaten. Mengapa bioskop di kabupaten penting Menurut penekanan dari organisasi tersebut, ketersediaan bioskop di kabupaten berperan ganda: pertama sebagai sarana untuk memperluas jangkauan karya perfilman nasional, dan kedua sebagai wadah bagi karya-karya lokal untuk dikenalkan kepada publik yang lebih luas. Tanpa fasilitas pemutaran yang memadai, penonton di daerah seringkali hanya mengandalkan tayangan televisi atau platform digital yang belum tentu menampilkan keberagaman produksi lokal dan nasional secara seimbang. Regulasi sebagai pengungkit ekosistem layar lebar GSI mendorong lahirnya kebijakan yang memfasilitasi pembangunan infrastruktur perfilman di daerah serta insentif yang mendorong pemutaran film di bioskop daerah. Regulasi yang disarankan bersifat menyeluruh, meliputi insentif fiskal, kemudahan perizinan, dan skema kemitraan antara pemangku kepentingan pusat dan daerah. Dengan landasan kebijakan yang jelas, diharapkan ekosistem perfilman bisa tumbuh lebih merata dan berkelanjutan. Baca juga: Kedaulatan Ekonomi Indonesia di Persimpangan Abad ke-21 Manfaat bagi industri kreatif lokal Penyediaan bioskop di kabupaten tidak hanya memberi akses tontonan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi kreatif di tingkat lokal. Kehadiran ruang pemutaran memungkinkan sineas lokal untuk mempresentasikan karya mereka, memicu kolaborasi antar pelaku kreatif, serta membuka peluang usaha pendukung seperti kafe, merchandise, dan layanan produksi. GSI menggarisbawahi bahwa penguatan ini dapat mendorong terciptanya lapangan kerja kreatif yang lebih luas di daerah. Langkah konkret dan harapan ke depan Dalam pernyataannya, Dewie Yasin Limpo menyampaikan harapan agar pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait merumuskan langkah-langkah yang operasional guna mewujudkan tujuan tersebut. GSI melihat peran penting sinergi antar lembaga, pelaku industri, serta komunitas lokal untuk menjadikan kebijakan bukan sekadar wacana, melainkan program nyata yang berdampak pada peningkatan akses dan kualitas perfilman di seluruh wilayah. Selain pengembangan infrastruktur pemutaran, organisasi ini juga menekankan pentingnya program pendampingan bagi pelaku kreatif di daerah — mulai dari pelatihan teknis hingga dukungan pemasaran. Upaya ini dianggap krusial agar produksi lokal tidak hanya hadir tetapi juga mampu bersaing dan bertahan di pasar yang lebih luas. GSI berharap inisiatif tersebut membuka ruang partisipasi yang lebih besar bagi komunitas film di seluruh Indonesia. Dengan adanya regulasi dan fasilitas yang memadai, organisasi menilai ekosistem perfilman nasional bisa menjadi lebih inklusif, memberi kesempatan yang setara bagi talenta dan karya dari daerah untuk diakui serta dinikmati oleh publik yang lebih luas. Baca juga berita lainnya: Raja Juli Dinilai Memahami Akar Persoalan Konservasi Gajah FKGI Sambut Inpres Nomor 8 Tahun 2026 sebagai Penguatan Perlindungan Gajah Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author bagas.prasetyo Editor Infrastruktur Bagas Prasetyo berfokus pada pembangunan infrastruktur nasional, proyek strategis, transportasi, kawasan industri, konstruksi, serta berbagai kebijakan yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Kedaulatan Ekonomi Indonesia di Persimpangan Abad ke-21