0 0 Read Time:3 Minute, 39 Second Program Smart-Early Steps dirancang untuk meningkatkan kemampuan pedagogis digital guru dengan menempatkan AI terintegrasi sebagai bagian dari praktik pembelajaran di SMPN 35 Kota Bekasi. Inisiatif ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara kecukupan infrastruktur teknologi dan kesiapan pedagogis tenaga pendidik dalam memanfaatkan kecerdasan buatan secara etis dan kontekstual. Kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung selama delapan bulan dan didanai oleh Kemendikti Saintek Berdampak 2026 dipimpin oleh tim akademisi Universitas Islam As-Syafi’iyah. Tim inti terdiri dari Dr. Khasanah, S.Pd., M.Pd., Dr. Syarifah, M.Pd., dan Nurul Fajri, M.Pd. Seluruh rangkaian kegiatan fokus pada peningkatan kapasitas 30 guru di SMPN 35 Kota Bekasi melalui pelatihan intensif dan pendampingan langsung. Konteks tantangan di sekolah penyangga ibu kota SMPN 35 yang berlokasi di kawasan penyangga ibu kota telah dilengkapi fasilitas seperti laboratorium komputer dan koneksi internet yang memadai. Meski begitu, analisis awal menunjukkan bahwa ketersediaan perangkat keras belum otomatis menjadikan pemanfaatan AI efektif dalam proses pembelajaran. Hambatan utama terletak pada keterbatasan kompetensi pedagogis digital guru untuk mengarahkan penggunaan teknologi secara akademis. Siswa di sekolah ini merupakan Generasi Alpha—lahir setelah 2010—yang memiliki tingkat fasih digital tinggi dalam aktivitas sehari-hari. Namun, kebiasaan digital tersebut belum teralihkan secara optimal untuk kebutuhan pembelajaran. Untuk itu, program bertujuan tidak sekadar mengajarkan penggunaan aplikasi, melainkan membekali guru dengan kemampuan merancang kurikulum yang memanfaatkan AI secara personal, etis, dan berkelanjutan. Pendekatan kolaboratif dan ekosistem AI terintegrasi Alih-alih metode pelatihan satu arah, tim menggunakan pendekatan Participatory Technological Development (PTD). Guru dilibatkan sejak pemetaan kebutuhan, perancangan modul, simulasi mandiri, hingga evaluasi reflektif. Proses partisipatif ini dimaksudkan agar solusi yang dihasilkan sesuai dengan konteks nyata di kelas. Untuk menciptakan alur kerja terpadu, program memperkenalkan empat aplikasi utama sebagai bagian dari ekosistem kerja: Teachy.ai untuk menyusun modul ajar dan mengorganisasi aktivitas, ChatGPT Plus untuk pembuatan konten dan diferensiasi tugas, Canva Pro AI untuk media pembelajaran visual, serta Wordwall Pro untuk asesmen formatif berbasis permainan. Semua pemanfaatan aplikasi dilakukan setelah koordinasi dan persetujuan manajemen sekolah serta persetujuan 30 guru peserta pelatihan. Baca juga: Smart Cleaning Kai: KAI Services Adopsi Smart Cleaning untuk Stasiun yang Lebih Ramah Lingkungan Dampak pada efisiensi kerja dan kualitas pembelajaran Implementasi ekosistem tersebut menunjukkan perubahan signifikan pada efisiensi persiapan bahan ajar. Rata-rata waktu yang semula diperlukan sekitar 14 jam per unit pembelajaran berhasil dipangkas menjadi lebih kurang 45 menit, sehingga beban administratif rutin berkurang sekitar 65 persen. Pengurangan beban administratif ini memungkinkan guru memusatkan perhatian pada pendampingan individual siswa dan interaksi bermakna di kelas. Evaluasi mengikuti kerangka Competency Framework for Teachers dari UNESCO mengindikasikan peningkatan kompetensi pedagogis digital guru dari rata-rata 53,25 persen (kategori sedang) menjadi 71 persen (kategori tinggi) setelah intervensi. Peningkatan tersebut terukur pada enam dimensi utama, meliputi literasi digital pedagogis, perencanaan pembelajaran berbasis AI termasuk prompt engineering untuk penyusunan draft RPP, personalisasi materi, pengembangan media digital, implementasi dan asesmen digital, serta etika penggunaan AI dan pengembangan profesional berkelanjutan. Menurut catatan kinerja praktis di lapangan, 28 dari 30 guru (93,3 persen) dinyatakan mampu secara mandiri menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi berbasis AI yang memenuhi standar kualitas pedagogis. Pemantauan lapangan pada 21 Juli 2026 juga menunjukkan bahwa sejumlah guru telah berhasil menerapkan modul dan materi yang dikembangkan selama pelatihan. Keberlanjutan: komunitas belajar dan integrasi kebijakan sekolah Keberhasilan pelatihan tidak berhenti pada tahap awal. Untuk menjamin kesinambungan, SMPN 35 membentuk Komunitas Belajar (Professional Learning Community) yang mengaktifkan 30 guru sebagai mentor sebaya. Komunitas ini berperan untuk berbagi praktik baik, memfasilitasi diskusi rutin, dan membantu rekan guru yang belum mengikuti program awal. Selain itu, sekolah telah memasukkan praktik pembelajaran berbasis AI ke dalam panduan operasional internal. Langkah institusional tersebut dimaksudkan agar pemanfaatan AI menjadi bagian dari budaya mutu sekolah dan kebijakan transformasi digital yang berkelanjutan, bukan sekadar inisiatif individu sementara. Secara keseluruhan, program Smart-Early Steps menunjukkan bahwa dengan pendekatan partisipatif dan ekosistem aplikasi yang terkoordinasi, integrasi AI ke dalam praktik pembelajaran menimbulkan efek positif pada efisiensi kerja guru dan kualitas pembelajaran. Keberlanjutan bergantung pada dukungan manajemen sekolah, komitmen guru sebagai mentor, serta mekanisme monitoring yang teratur dari tim pengabdian. Tim pengabdian yang dipimpin Dr. Khasanah dan beranggotakan Dr. Syarifah serta Nurul Fajri terus melakukan pemantauan untuk memastikan transfer kompetensi tetap berlanjut dan diadopsi secara lebih luas di lingkungan sekolah. Baca juga berita lainnya: Colibr Jalankan Glm-5 2: Colibr Jalankan GLM-5.2 di Komputer Kecil Jangan Hanya Menjadi Pengguna: Wamenekraf Tekankan Talenta Kreatif Kuasai AI untuk Karya Bertaraf Dunia Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author reynaldi.putra Editor Teknologi Reynaldi Putra meliput perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, cloud computing, startup, gadget, hingga inovasi yang mendorong transformasi digital di berbagai sektor. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Smart Cleaning Kai: KAI Services Adopsi Smart Cleaning untuk Stasiun yang Lebih Ramah Lingkungan