psel bali - ilustrasi berita PSEL Bali Senilai Rp3 Triliun Kurangi Beban TPA 80% dan Serap 1.200 Tenaga KerjaPSEL Bali senilai Rp3 triliun di Desa Pedungan, Denpasar Selatan mulai dibangun pada 8 Juli 2026; proyek diharapkan memangkas beban TPA 80% dan menyerap…
0 0
Read Time:3 Minute, 0 Second

PSEL Bali kini resmi memulai pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Proyek ini diperkirakan bernilai sekitar Rp3 triliun dan ditujukan sebagai solusi pengelolaan sampah kota yang lebih modern sekaligus menghasilkan listrik ramah lingkungan.

psel bali - ilustrasi berita PSEL Bali Senilai Rp3 Triliun Kurangi Beban TPA 80% dan Serap 1.200 Tenaga Kerja

Pembangunan pabrik ini, yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada Rabu 8 Juli 2026, menjadi tonggak penting bagi pengelolaan sampah di wilayah Bali karena diharapkan mampu memangkas beban tempat pembuangan akhir (TPA) hingga sekitar 80 persen serta menyerap sekitar 1.200 tenaga kerja.

PSEL Bali: Proyek, lokasi, dan nilai investasi

Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL dibangun di Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Nilai investasi yang diumumkan mencapai Rp3 triliun, menunjukkan skala besar inisiatif ini. Lokasi dipilih di wilayah yang strategis untuk menampung aliran sampah kota dan mendekatkan sumber energi yang dihasilkan ke wilayah permukiman dan fasilitas publik di Denpasar.

Manfaat bagi pengelolaan sampah dan lingkungan

Pembangunan PSEL Bali diharapkan memperkenalkan metode pengelolaan sampah yang lebih modern dibandingkan praktik pembuangan akhir tradisional. Dengan kapasitas pengolahan yang dirancang untuk memangkas beban TPA hingga 80 persen, fasilitas ini diharapkan memperlambat pertumbuhan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, mengurangi dampak lingkungan, dan menurunkan potensi pencemaran di sekitar lokasi TPA.

Selain itu, output utama proyek adalah energi listrik yang diklaim ramah lingkungan. Dengan mengubah sampah menjadi sumber energi, proyek ini menyasar dua tujuan sekaligus: mengurangi akumulasi sampah dan menyediakan pasokan listrik yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lokal. Harapannya, pendekatan ini dapat mendukung upaya pengelolaan sampah berkelanjutan di Bali.

Dampak ekonomi dan penyerapan tenaga kerja

Selain manfaat lingkungan, PSEL Bali juga dipandang sebagai proyek yang membawa dampak ekonomi lokal. Proyeksi penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 1.200 orang, yang mencakup berbagai peran mulai dari konstruksi hingga operasi pabrik. Penyerapan tenaga kerja ini diharapkan memberi kesempatan kerja bagi masyarakat setempat selama fase pembangunan dan operasional.

Investasi sebesar Rp3 triliun diperkirakan juga mendorong aktivitas ekonomi terkait, seperti jasa logistik, penyediaan material, dan layanan pendukung lainnya. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya fokus pada aspek teknis pengolahan sampah tetapi juga pada multiplier effect ekonomi di sekitar lokasi pembangunan.

Peletakan batu pertama dan pihak pengembang

Peletakan batu pertama proyek ini berlangsung pada Rabu 8 Juli 2026 di Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pemerintahan dan pemangku kepentingan, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli yang turut menandai dimulainya pembangunan. Kehadiran pejabat menunjukkan dukungan tingkat tinggi terhadap inisiatif pengelolaan sampah dan energi terbarukan ini.

Pembangunan PSEL dikerjakan oleh perusahaan pengembang Danantara Indonesia. Peran pengembang mencakup investasi dan pelaksanaan konstruksi fasilitas serta persiapan operasional. Rencana operasional selanjutnya akan menitikberatkan pada transformasi sampah menjadi listrik yang diklaim hemat lingkungan.

Harapan dan tantangan ke depan

Proyek PSEL Bali membawa harapan besar bagi pengelolaan sampah di pulau dengan aktivitas pariwisata tinggi ini. Jika mampu beroperasi sesuai rencana, pengurangan beban TPA sebesar 80 persen dapat mengurangi tekanan terhadap lokasi pembuangan akhir, sekaligus menambah sumber listrik lokal yang lebih bersih.

Namun, keberhasilan proyek masih akan bergantung pada sejumlah faktor teknis dan manajerial, termasuk pemeliharaan fasilitas, kesinambungan pasokan sampah yang memenuhi standar, dukungan masyarakat setempat, serta kepastian operasional setelah konstruksi rampung. Pemantauan terhadap dampak lingkungan dan sosial juga diperlukan agar manfaat yang dijanjikan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Dengan modal investasi besar dan dukungan pemerintah, PSEL Bali diposisikan sebagai salah satu upaya penting dalam transformasi pengelolaan sampah menjadi solusi energi. Perkembangan proyek ini akan menjadi indikator penting bagi daerah lain yang mempertimbangkan teknologi serupa dalam menangani persoalan sampah dan kebutuhan energi ramah lingkungan.

About Post Author

aldo.wiranata

Editor Energi Aldo Wiranata merupakan jurnalis yang berfokus pada sektor energi, transisi energi, ketenagalistrikan, migas, serta pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan dunia. Ia aktif mengikuti berbagai perkembangan kebijakan energi dan inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan sektor energi. Email [email protected]
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By aldo.wiranata

Editor Energi Aldo Wiranata merupakan jurnalis yang berfokus pada sektor energi, transisi energi, ketenagalistrikan, migas, serta pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan dunia. Ia aktif mengikuti berbagai perkembangan kebijakan energi dan inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan sektor energi. Email [email protected]