0 0 Read Time:3 Minute, 27 Second Peringatan satu abad energi panas bumi di Indonesia dijadikan momentum oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) untuk menegaskan komitmen terhadap energi bersih sekaligus pemberdayaan masyarakat. Kunjungan PT Pertamina bersama awak media ke Area Kamojang pada Jumat (26/6/2026) menyoroti bagaimana energi panas bumi dimanfaatkan tidak hanya untuk pembangkit listrik, tetapi juga untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal seperti kopi. Di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, Kamojang menjadi sentra kopi Arabika yang memanfaatkan inovasi Geothermal Dry House. Teknologi ini menggunakan steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif dalam proses pengeringan biji kopi, sehingga mempercepat waktu pengolahan, menjaga kebersihan, dan meningkatkan konsistensi mutu hasil panen. Energi panas bumi untuk pengolahan kopi: Geothermal Dry House Geothermal Dry House yang dikembangkan bersama pelaku usaha lokal mampu memangkas waktu pengeringan biji kopi dari 30–45 hari menjadi 3–10 hari. PGE menyebut teknologi ini mempercepat proses hingga tiga kali lipat dengan efisiensi diklaim mencapai 300 persen. Hasilnya adalah biji kopi yang lebih higienis, memiliki kematangan konsisten, dan nilai jual lebih tinggi. Inovasi tersebut saat ini diterapkan melalui kemitraan PGE dengan tiga kelompok tani—Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi—yang memberdayakan sekitar 320 keluarga petani di sekitar wilayah Kamojang. Kopi Kamojang yang diproses menggunakan teknologi ini telah mencapai pasar internasional di Asia dan Eropa dengan volume ekspor tercatat 20 ton. Dampak ekonomi dan program pemberdayaan masyarakat PGE menempatkan pemanfaatan langsung panas bumi sebagai bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi lokal. Corporate Secretary PGE Muhammad Taufik mengatakan bahwa perjalanan seratus tahun panas bumi menunjukkan sumber daya ini bersifat berkelanjutan dan merupakan potensi asli Indonesia. “Melalui inovasi seperti Geothermal Dry House, kami ingin memperlihatkan bahwa panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas produk lokal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya. Selain pengolahan kopi, PGE Area Kamojang menjalankan program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal) yang meliputi pemanfaatan panas bumi untuk perikanan, budidaya pertanian, pengolahan pascapanen, hingga produksi pupuk organik GeO-Fert. Inisiatif-inisiatif ini dirancang untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang memanfaatkan kelebihan energi panas bumi secara langsung. Baca juga: Kadin Percepat Kenaikan Kelas UMKM lewat Ekosistem Digital Kontribusi listrik, lingkungan, dan konservasi Secara operasional, Kamojang tetap berperan penting sebagai wilayah panas bumi tertua yang terus berkontribusi pada sistem ketenagalistrikan dan lingkungan. Saat ini pengelolaan WKP Kamojang dilakukan oleh PGE melalui lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas 235 megawatt (MW). Kapasitas ini termasuk bagian dari 727 MW terpasang yang dikelola perusahaan. PLTP Kamojang mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari sepanjang tahun tanpa bergantung pada kondisi cuaca maupun bahan bakar fosil. Hingga September 2025, produksi listrik dari Kamojang mencapai 1.326 gigawatt hour (GWh), angka tertinggi di antara seluruh wilayah kerja panas bumi yang dikelola PGE. Operasi ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO2 per tahun, sejalan dengan target Net Zero Emission 2060. PGE juga aktif dalam pelestarian lingkungan, antara lain melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) untuk konservasi Elang Jawa. Komitmen terhadap lingkungan dan praktik berkelanjutan terlihat dari pencapaian PGE Area Kamojang yang menjadi satu-satunya unit panas bumi di Indonesia yang memperoleh 15 penghargaan PROPER Emas secara berturut-turut. Jejak sejarah dan tantangan ke depan Jejak panas bumi di Kamojang bermula pada era kolonial saat potensi pertama kali dieksplorasi pada 1926. Eksplorasi oleh Pertamina dimulai pada 1974, dan PLTP Kamojang pertama kali beroperasi secara komersial pada 1983. Sejak itu, lokasi ini berkembang menjadi pusat inovasi pemanfaatan panas bumi yang tidak sekadar menghasilkan energi listrik, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menegaskan pentingnya Kamojang dalam sejarah pengembangan energi bersih di Indonesia. Ia mengatakan bahwa temuan satu abad lalu kini berkembang menjadi sumber energi andal yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Kunjungan ke Area Kamojang dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana pengembangan panas bumi dapat menjaga lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan kombinasi kapasitas pembangkit, inovasi pengolahan seperti Geothermal Dry House, dan program pemberdayaan yang menjangkau ribuan penerima manfaat, Kamojang menjadi contoh bagaimana energi panas bumi dapat diintegrasikan ke dalam pembangunan ekonomi lokal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author raka.aditya Editor Ekonomi Raka Aditya mengulas berbagai isu ekonomi makro maupun mikro, mulai dari kebijakan pemerintah, inflasi, perdagangan, pasar keuangan, investasi, hingga perkembangan ekonomi global yang berdampak terhadap Indonesia. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Kadin Percepat Kenaikan Kelas UMKM lewat Ekosistem Digital