0 0 Read Time:3 Minute, 1 Second Pertamina dua jalur menjadi strategi pusat perusahaan untuk menjawab tantangan ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik. Pendekatan ini menekankan pentingnya menjaga pasokan energi saat ini lewat penguatan bisnis minyak dan gas, sekaligus menyiapkan sumber energi baru yang lebih rendah karbon untuk masa depan. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menegaskan bahwa transisi energi bagi Pertamina bukan sekadar upaya menurunkan emisi, melainkan juga memperluas ragam sumber energi nasional yang berkelanjutan dan berbasis potensi domestik. Strategi itu, menurutnya, berjalan melalui dua jalur yang saling melengkapi. Pertamina dua jalur: landasan dan arah pengembangan Pada jalur pertama, Pertamina memperkuat bisnis legacy—terutama minyak dan gas—sebagai fondasi ketahanan energi nasional. Penguatan produksi migas dan optimalisasi aset pengolahan diarahkan untuk memastikan ketersediaan pasokan, kemampuan kilang, dan kontinuitas layanan energi di tengah dinamika pasar dan gejolak pasokan global. Jalur kedua menempatkan perhatian pada pengembangan bisnis rendah karbon, termasuk energi baru dan terbarukan (EBT) serta teknologi pengurangan emisi. Fokusnya meliputi panas bumi, energi surya, bahan bakar nabati, serta teknologi seperti carbon capture, utilization and storage (CCUS) dan hidrogen rendah karbon. Pendekatan ganda ini bertujuan agar bisnis eksisting tetap menopang kebutuhan sekarang, sementara portofolio baru disiapkan sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang. Menguatkan panas bumi dan potensi domestik Sebagai contoh pengembangan EBT, Pertamina melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW). Rinciannya adalah 727 MW dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama, yang jika digabung setara sekitar 70% dari kapasitas panas bumi terpasang nasional. Kapasitas ini menegaskan peran perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya dalam negeri untuk mendukung transisi energi. Pengembangan panas bumi dan sumber terbarukan lain dianggap penting untuk memperluas basis pasokan energi dan mengurangi ketergantungan pada komoditas impor yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Baca juga: Kapolri Tegaskan Perang terhadap Pungli dan Premanisme demi Perlindungan Investasi Tanggapan ekonom terhadap strategi ganda Ekonom Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menilai strategi dual growth tersebut tepat. Ia berpendapat bisnis migas perlu dipertahankan karena masih memegang peran penting memenuhi kebutuhan domestik. Namun, pengembangan EBT juga merupakan langkah strategis agar Pertamina memiliki sumber pertumbuhan baru ketika cadangan migas semakin terbatas. Faisal menekankan pergeseran yang bertahap—atau safe transition—sebagai pendekatan yang bijak. Dengan mempertahankan kekuatan bisnis migas sambil membangun ekosistem energi baru, perusahaan dapat menghindari guncangan besar pada kinerja dan tetap memenuhi kebutuhan energi nasional selama transisi berlangsung. Upaya pemerintah dan target bauran energi Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menyatakan bahwa pengembangan EBT adalah prioritas untuk mendorong swasembada energi. Ia mengingatkan bahwa gejolak geopolitik global bisa mengganggu rantai pasok dan memicu kenaikan harga energi, yang berdampak pada inflasi, biaya produksi, serta beban subsidi pemerintah. Kementerian ESDM mencatat kontribusi EBT pada bauran energi nasional semester I 2026 mencapai 17,3%, sementara target pemerintah adalah meningkatkan angka itu menjadi 30% pada 2034. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju proporsi EBT yang lebih tinggi masih panjang, sehingga kedua jalur Pertamina menjadi relevan sebagai respons terhadap kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang. Komitmen terhadap Net Zero dan tata kelola Pertamina menempatkan transformasi perusahaan pada prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) untuk memastikan keberlanjutan usaha dan dampak terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Perusahaan menyatakan dukungan terhadap target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program yang memberikan kontribusi pada capaian SDGs. Dengan menggabungkan penguatan bisnis legacy dan akselerasi investasi pada EBT serta teknologi rendah karbon, Pertamina berupaya menjaga ketersediaan energi saat ini sekaligus menyiapkan landasan bagi transisi energi yang lebih aman dan berkelanjutan bagi Indonesia. Baca juga berita lainnya: Wapres Tekankan Perlindungan Satwa dalam Penanganan Karhutla di Kalimantan Sorotan Baru Seputar Masker Way Lunik yang Menarik Perhatian Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author sheila.kartika Editor Lingkungan Sheila Kartika memiliki perhatian terhadap isu perubahan iklim, konservasi alam, energi hijau, pengurangan emisi karbon, pengelolaan limbah, serta berbagai upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Email [email protected] [email protected] https://www.energysolvers.net/ Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Navigasi pos Kapolri Tegaskan Perang terhadap Pungli dan Premanisme demi Perlindungan Investasi